Kakak Senior yang Galak di Kampus

Sumber gambar: Freepik by catalyststuff

Tahun ajaran baru sudah mulai, mahasiswa baru akhirnya dapat merasakan budaya dan lingkungan kampus, yang tentu saja berbeda dengan sekolahnya dahulu. Pun, dengan oknum senior di suatu kampus mereka kembali melakukan budaya kunonya, unjuk dominasi.

Belakangan ini rame lagi, dua berita viral tentang kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Pertama, gerombolan senior di salah satu kampus di Banten, menjemur peserta OSPEK seharian di bawah terik matahari. Kedua, salah satu kampus di Jawa Barat meneriaki para peserta OSPEK yang berjalan membungkuk di hadapan senior.

Sebenernya, berita-berita serupa terus berulang setiap tahunnya. Walau sudah berkali-kali dikecam, tapi tetap saja tidak ada yang belajar dari kesalahan, terus saja berulang. Saya berani bertaruh di tahun depan akan ada berita seperti kejadian ini.

Saya tidak anti OSPEK, malahan saya mendukung kegiatan OSPEK. Sebab, seperti yang kita ketahui OSPEK sendiri adalah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, yang dimana sangat penting untuk mengetahui cara agar bisa mengikuti kegiatan belajar selama menjadi mahasiswa. Mengapa mahasiswa baru harus tahu? Sebab, ada perbedaan gaya belajar, dan budaya belajar ketika menjadi siswa SMA, SMK, MA, sederajat, dengan menjadi mahasiswa.

Sewaktu lulus SMK, saya tidak tahu sama sekali apa itu sistem SKS. Saya pun tidak mengerti mengapa mahasiswa bisa lulus dengan waktu yang berbeda. Pun, dengan sistem kelas di perkuliahan yang bisa dilaksanakan dengan jam yang berbeda-beda setiap harinya. Tidak seperti di SMK tempat saya belajar sebelumnya, yang dimana setiap harinya waktu belajarnya selalu sama. Tidak ada sistem SKS yang membingungkan, dan juga siswa akan lulus setelah tiga tahun, kecuali ada yang tidak naik kelas, atau gagal Ujian Nasional. Kasusnya sedikit.

Perbedaan-perbedaan di atas yang menyebabkan OSPEK saya rasa menjadi penting bagi mahasiswa baru. Masalahnya adalah pengorganisasian yang buruk, tidak terpantau pihak universitas, dan senioritas, adalah masalah dari OSPEK, dan ini membuat OSPEK menjadi ajang bulan-bulanan senior pada junior. Emang paling seru kalau membicarakan senioritas.

Sumber gambar: Pexels by Tima Miroshnichenko

OSPEK yang seharusnya menjadi kegiatan penting bagi mahasiswa baru, malah dijadikan ajang unjuk dominasi para senior yang gila hormat. Mungkin mereka merasa ada suatu keistimewaan dari diri mereka, yang menyebabkan mereka dapat berperilaku paling berkuasa di lingkungan kampus? Apa itu? Lahir duluan, dan jadi mahasiswa duluan. Selebihnya tidak ada.

Betul, senior memang orang yang paling tahu tentang kampus, tapi apakah harus menjadi pemarah, tukang bentak, tukang nyuruh? Emang kalau jadi senior galak, para junior bakal hormat kepada kalian? Emang kenapa pula sih, senior di kampus harus dihormati, emang apa sih jasa senior di suatu universitas, sampai-sampai harus dihormati?

Pada 2014 saya pernah menjadi peserta OSPEK, sebagaimana OSPEK pada umumnya saat itu saya harus menggunakan atribut malu-maluin yang terpaksa digunakan. Saat itu kegiatan OSPEK dilaksanakan di puncak. Mayoritas panitia adalah mahasiswa angkatan 2013, 2012, ada sedikit mahasiswa angkatan 2011. Gilanya, saat itu ada pula mahasiswa angkatan 2010, dan 2009 yang juga ikut datang ke Puncak.

Alih-alih berkutat dengan magang, skripsi, sibuk mencari kerja, atau menjadi pegawai kantoran, mereka seniornya senior sampai meluangkan waktunya untuk menjadi bagian dari OSPEK mahasiswa baru angkatan 2014. Walaupun ragu, saya tetap berusaha berbaik sangka terhadap mereka, bahwa mereka adalah senior yang benar-benar peduli terhadap juniornya.

Walau begitu saya tetap merasa senang mengikuti OSPEK, sebab kawan-kawan saya lumayan asik, dan kegiatan OSPEK-nya pun seru karena terdapat berbagai macam permainan yang menuntut kerjasama kelompok. Senior dapat menunjukan “dominasinya”, junior dapat bersenang-senang. Sampai sini, setidaknya semua menang.

Dendam tahunan bisa jadi alasan mengapa perpeloncoan, marah-marah, dan nyuruh-nyuruh masih dilakukan oleh senior di kampus, maka lahirlah “Jaman kami dulu lebih parah, Dik.”

Senior-senior di kampus juga sering membela diri akan perbuatannya mempermalukan para junior dengan jargon “Biar nanti punya mental kuat di dunia pekerjaan,” atau “Biar bisa akrab dengan teman-teman yang lain.” Bagi saya ini hanya pembelaan diri saja dari minimnya kreativitas para senior untuk melatih juniornya agar menjadi orang yang bermental baja, kreatif, dan dapat bekerjasama. Makanya cuma bisa marah-marah, sambil mempermalukan para juniornya.

Balik lagi. Dengan marah-marah, memaki, dan sok berkuasa, tak akan membuat seseorang dapat dihormati. Mungkin orang hanya takut kepada Anda, tapi tidak dengan penghormatan. Respect is earned not given.

--

--

Suka menulis tentang apa saja

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
M Ikhsan

M Ikhsan

Suka menulis tentang apa saja