Menambah Wawasan dengan Berjalan Kaki di Jakarta

M Ikhsan
3 min readMay 12

--

Sebelumnya saya tidak pernah tergoda dengan iklan pada Instagram, hingga pada suatu waktu muncul iklan Walk Indies, operator tur yang berlokasi di Jakarta. Saya memang mendapat banyak iklan terkait operator tur, hanya saja Walk Indies berbeda, lantas saya langsung melihat akun tersebut, dan langsung beli salah satu paket tur jalan kaki Walk Indies. Saya memutuskan membeli paket tur Hermes & The Elephant.

Kami semua bertemu di Museum Nasional, pada pukul 08.30 WIB. Ternyata The Elephant yang dimaksud dari judul tur ini adalah patung gajah pada depan Museum Nasional. Mimi seorang pemandu wisata menceritakan harga mahal yang di balik patung gajah tersebut.

Patung gajah itu adalah hadiah dari Kerajaan Siam, patung gajah berbahan perunggu tersebut diberikan oleh sang raja sebagai simbol terimakasih lantaran pemerintah Hindia Belanda, telah memberikan sembilan gerobak berisikan arca, relief, dan benda bersejarah sejenisnya. Hingga saat ini benda bersejarah yang sangat berharga tersebut masih ada pada pemerintahan Thailand.

Setelah menerima wawasan terkait patung gajah, kami berjalan memasuki gedung Museum Nasional. Di sini kami menerima wawasan terkait arca Hindu, dan Buddha. Di sini saya mendapat banyak penjelasan terkait Dewa Trimurti, dalam agama Hindu tiga dewa utama, Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Ada juga sedikit pembahasan dewa dari agama Hindu lainnya.

Setelah puas berkeliling Museum Nasional, kami menaiki bus Trans Jakarta menuju Harmoni. Di Harmoni kami mendengar cerita tentang hotel termewah se-Asia pada zamannya, hotel Des Indes. Peraturan rasis saat itu membuat hotel tersebut hanya menerima tamu dari kalangan kulit putih, dan pada suatu waktu ada saudagar Arab yang ingin menginap di hotel Des Indes, tentu orang Arab tersebut ditolak.

Pelataran gedung bekas hotel Des Galeries. Sumber dokumen pribadi

Orang Arab tersebut menganggap penolakan adalah sebuah motivasi untuk mengalahkan hotel Des Indes, lantas ia membuat hotel mewah tepat di depan Des Indes, hotel tersebut bernama Des Galeries. Hingga saat ini bekas bangunan dari hotel Des Galeries hanya dihuni oleh rayap, dan hantu, alias terbengkalai.

Selanjutnya, berjalan kaki sedikit, mengunjungi kantor NILLMIJ (Nederlandsch-Indische Levensverzekerings en Lijfrente Maatschappij), perusahaan asuransi cikal bakal dari Jiwasraya. Tidak seperti bangungan bekas hotel mewah di Harmoni, bangunan di kantor NILLMIJ masih terawat dengan baik, sekarang juga digunakan sebagai kantor Jiwasraya, sayangnya peserta tur tidak bisa masuk ke dalam bangunan bersejarah tersebut.

Gedung bekas kantor NILLMIJ, sekarang jadi gedung kantor Jiwasraya. Sumber dokumen pribadi

Setelahnya kami mengunjungi replika patung Hermes pada kawasan Harmoni, katanya patung tersebut adalah hadiah untuk pemerintah Hindia Belanda ketika itu. Lantas diletakan di Harmoni, karena saat itu Harmoni adalah area perdagangan di Batavia.

Replika patung Hermes sendiri dibuat oleh Arsono, seniman asal Yogya. Sementara patung aslinya ada di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, hal ini dilakukan untuk menyelamatkan patung bersejarah tersebut dari pencurian atau kerusakan.

Terakhir, kami mengunjungi gedung Arsip Nasional. Ini merupakan salah satu gedung tua di Jakarta. Dahulu gedung ini pernah jadi tempat tinggal pemimpin Batavia pada zamannya. Gedung Arsip Nasional juga pernah terancam dibongkar, beruntung saat itu masih ada sekelompok orang yang menyelamatkan eksistensi gedung ini.

Gedung Arsip Nasional. Sumber dokumen pribadi

Secara personal, gedung ini memang sangat indah, bahkan setelah menelusuri Google, saya mendapati Bahwa gedung ini juga dapat digunakan untuk acara pernikahan secara outdoor.

Di belakang, terdapat gedung yang dikhususkan untuk Diorama Presiden Soekarno. Di sini kami mendapat berbagai wawasan tentang bapak pendiri bangsa, Soekarno, mulai dari ia kecil, hingga wafat.

Perjalanan selesai pada pukul 13 lewat, secara keseluruhan saya sangat menikmati perjalanan ini. Kedapannya tentu saya akan kembali berjalan dengan Walk Indies, atau dengan operator tur lainnya yang sejenis, ya hitung-hitung bisa menambah wawasan terkait sejarah di Jakarta, kalaupun tidak bisa tahu hidden gem.

--

--