Sebuah Cerpen Berjudul “Apa Aja yang Penting jadi Penulis”

M Ikhsan
4 min readNov 11, 2022

Aku mengamati Dwi yang sedang asik bekerja, ia sangat cekatan dalam mengetik tuts keyboard pada laptopnya. Suara “Tak-tik-tak-tik”, menjadi selaras dengan instrumen musik jazz yang diputar secara berulang di kafe kemahalan ini.

Ilustrasi ngetik. Sumber: Freepik

Dwi adalah teman yang membuatku jadi menyukai dunia sastra “kelas atas”, yang hanya dinikmati segelintir orang. Bagiku Dwi adalah book snob, suatu hari ia pernah mencemoohku karena membaca novel sci-fi remaja.

“Ah mahasiswa bacaannya kok kayak gitu,” kata Dwi sambil menyodorkan buku sastra klasik dari penulis kawakan asal Paraguay.

“Nih, buku yang harus kamu baca. Buku ini memotret sejarah kelam Paraguay secara fiksi, dan menyenangkan,” lanjutnya

Aku meminjam buku sastra klasik Paraguay tersebut, bukan karena aku tertarik dengan ulasan singkat dari Dwi, hanya saja aku tidak punya hiburan di rumah, internet di rumah sangat buruk, aku juga tidak memiliki konsol game, sementara buku-buku yang kubeli sudah ku baca semua, jadi aku berpikir lebih baik untuk meminjam buku milik Dwi, daripada hanya bengong ketika di rumah.

Agak sulit bagiku untuk menyelesaikan buku ini, setidaknya ada tiga alasan: Pertama, kendala bahasa, buku ini berbahasa Inggris, banyak kosa kata dalam bahasa Inggris yang tidak aku pahami, bahkan setelah menggunakan kamus daring pun, nyatanya aku masih tidak mendapatkan padanan kata yang tepat untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kedua, lebih ke alasan personal. Novel ini memiliki alur yang cukup lambat, sedangkan aku biasa membaca novel sci-fi remaja, novel detektif nyentrik, atau manga anak-anak yang beralur sangat cepat. Ketiga, aku tidak merasa dekat dengan karakter utama novel ini. Bahkan sebagai hiburan pun aku tidak bisa menikmatinya.

Bukan berarti aku tidak menyukai buku ini sama sekali, tetap ada hal baru yang bisa aku dapatkan dari setiap buku. Khususnya buku sastra klasik dari Paraguay ini, aku jadi paham sejarah singkat Paraguay dari masa kependudukan orang-orang Spanyol, yang dimulai dari masa ditemukannya kota Asunción–ibukota Paraguay saat ini. Hingga ke masa kolonial yang dipimpin Domingo Martínez de Irala yang awalnya ingin mencari emas, hanya saja koloni tersebut gagal, dan mereka bermukim dengan etnis lokal, Guarani. Hingga ke masa kepemimpinan Carlos Antonio López, yang pada masa itu Paraguay mendapatkan kemerdekaannya.

Orang-orang Spanyol yang menetap di Paraguay sendiri membaur dengan etnis lokal, Guarani. Pernikahan orang Spanyol dengan etnis lokal di berbagai negara jajahannya di benua Amerika disebut dengan “mestizo”, yang kalau dalam bahasa Inggris disebut “mixture”, atau blasteran dalam bahasa Indonesia.

Ilustrasi Buku. Sumber: freepik

Hampir sebulan waktu yang aku butuhkan untuk dapat menamatkan buku sastra klasik Paraguay ini. Sebagai orang baik, aku mengembalikan buku ini tanpa kurang sedikit pun.

“Nih, aku balikin buku sastra klasik Paraguay punya kamu,” kataku.

“Bagus, kan?”

“Yah lumayan lah, bisa memotret sejarah kelam Paraguay secara fiksi, dan menyenangkan,” aku hanya mengulang apa yang Dwi katakan sebelumnya, sebenarnya aku sendiri kurang tertarik dengan buku ini, tapi masa iya aku bilang dengan terang-terangan bahwa aku tidak tertarik dengan buku ini. Mencela book snob sama saja mencari mati.

***

Dua tahun setelah wisuda, aku tidak pernah bertemu Dwi, kebetulan aku harus kembali ke kampung halaman, sebab pandemi hadir, dan aku tidak lantas memiliki pekerjaan. Setelah pandemi sedikit usai aku kembali ke Bandung, sekalian cari-cari kesempatan kerja, serta ambil ijazah.

Aku menghubungi Dwi untuk reuni. Dwi mengajakku untuk bertemu pada kafe yang aku tahu cukup mahal. Di kafe, aku bertemu dengan Dwi yang mengubah penampilannya secara drastis. Dahulu ketika kuliah Dwi mendapat julukan sebagai abang-abang kampus, julukan ini di dapat sebab Dwi memiliki setiap stereotip abang-abang kampus, berupa: rambut gondrong, celana jeans biru belel, kaos hitam dengan warna yang sudah pudar, sepatu putih Kodachi yang telah menguning, dan berbagai stereotip lainnya. Dwi yang sekarang tentu berbeda, dia adalah anak startup, berpenampilan rapi, yang rajin menghamburkan duitnya untuk duduk di cafe, untuk work from anywhere katanya. Biar bisa kerja maksimal, gawainya tentu saja keluaran produk Apple.

“Kerjain apa sih? Ribet banget,” celetukku.

“Nulis artikel,”

“Oh kamu sekarang jadi penulis?”

Tanpa menjawab pertanyaanku, Dwi terus saja menulis. Seketika aku sempet berpikir hebat juga dia, jarang masuk kelas ketika kuliah, banyak nongkrong, tapi bisa menjadi penulis, yang nampaknya juga berkantong tebal. Tahu gitu sejak dulu kuikuti saja jejak dia.

“Terus, apa yang kamu tulis sekarang?” Tanyaku.

“Artikel untuk SEO,”

“Oh, SEO bukannya menulis seperti robot, ya? Tidak cocok untuk kamu yang sebenarnya suka mengkritik segala hal, dan mencemoohnya”

“Apa?”

Bagiku SEO itu mirip seperti menulis untuk robot, sebelum kalian menghakimi ku, tapi seorang penulis SEO benar-benar memerhatikan algoritma dari Google sebagai mesin pencari, ia mencari kata kunci, mencoba mendapatkan backlink, memaksakan artikel memiliki jumlah karakter tertentu, padahal sebuah artikel bisa saja menjadi sangat pendek, atau menjadi sangat panjang, tergantung kebutuhan. Penulis SEO juga acap kali mengotak-atik judul agar ramah pada mesin pencarian, Google. Yang aku tahu seringkali penulis SEO lebih mementingkan artikel miliknya terpampang pada peringkat pertama Google, alih-alih menjadi enak dibaca. Banyak pula artikel “SEO”, yang hanya saduran dari artikel-artikel lainnya. Ibarat sebuah pendakian, Google adalah gunung yang sangat tinggi yang para pendakinya saling bersaing untuk mencapai puncak, halaman pertama Google.

Walau begitu, saya juga beberapa kali mendapatkan artikel SEO yang keren, seperti pada Glints, atau Niagahoster. Ditulis secara baik, bermanfaat, dan bukan merupakan saduran. Seringkali saya menjadikan dua website mereka sebagai bahan referensi bacaan disaat luang.

“Lebih baik berkerja tidak sesuai minat, dibanding terus-terusan mencari kerja,” kata Dwi.

“Betul,” kataku sambil me-refresh email berharap ada HRD yang mengundang wawancara kerja.

--

--